Om Jhon sudah dua hari ini WA Tuty, tapi jawaban Tuty singkat saja. Om Jhon paham, maka dia tidak berusaha memperpanjang percakapannya.
Om Jhon paham sepaham-pahamnya si Tuty: kalau lagi bete lebih nyamannya sendiri, bergelut dengan hatinya sendiri.
Sementara di kamarnya yang seukuran 1,5 x 1,5 meter, seusai jam kerja, Tuty terbaring dengan menekuk tubuhnya. Di atas kasur lipat yang seprai dan sarung bantalnya selalu wangi. Menghadap tembok.
Benar, dua hari ini Tuty bete, kesal, atau nggondok (Jawa). Tidak pada saudara, tidak pada si bos, juga tidak pada Om Jhon, tapi pada dirinya sendiri.
Lho? Ya, Tuty marah kepada dirinya sendiri, kenapa sampai begitu larut kesedihannya pada anak usia empat tahun mati karena cacingan. Lebih edan lagi, cacing di dalam tubuhnya sampai satu kg.
Bagaimana bisa terjadi seorang balita mati karena cacingan di sebuah desa, yang punya tetangga, dan ada pemerintahannya yang seharusnya mengurus warganya dan tentu juga ada bidan desa.
Tuty tidak mau berpanjang-panjang menyalahkan siapa-siapa. Siapa lu (sopo kowe) nyalah-nyalahkan si anu dan si anu? Toh masing-masing sudah saling nunjuk salah anu dan anu, ujung-ujungnya menyalahkan ortu si anak yang agak terbelakang mentalnya.
Baca Juga: Tuty Bahagia Bisa Agustusan di Kampung
Bagi Tuty, anak kecil kena penyakit cacing, khususnya di desanya, sudah lumrah. Dulu. Apalagi jamannya semaca dia kecil. Tuty, saudaranya, tetangganya, dan temannya sedesa, sebagian besar pernah kena cacing. Tapi tidak sampai mati karena penyakit cacing, atau sampai cacing beranak-pinak 1 kg, terlebih di jaman ketika Presiden gencar dengan program makan bergizinya, juga di satu kabupaten yang tidak jauh dari ibu kota negara.
Tuty miris memikirkannya. Sampai dalamnya Tuty memikirkan nasib si bocah, maagnya sedikit kambuh. Tuty pun ingatannya pada anak semata wayangnya, si Tiyas. Hmm… andaikata anak malang itu adalah Tiyas. Oh, tidak. Tuty tidak mau membayangkan itu. Alhamdulillah, sampai sudah duduk di bangku SMA anak semata wayangnya itu tidak pernah penyakit cacingan.
Bagi Tuty, yang kala itu merawat dan mengasuh anaknya ketika balita sampai jelang lulus SD, merasa aneh kalau anak jaman now sampai kena penyakit cacingan seperti jamannya kecil dulu. Atau kena penyakit gudikan, dll. dll., penyakit yang seolah lumrah semasa dia kecil. Tapi penyakit-penyakit itu sudah tidak didengar Tuty lagi.
Baca Juga: Rojali yes, Rohana no
Lantas pikiran Tuty melebar ke mana-mana (mbeladrah, Jawa) tentang si anak malang itu. Melihat foto-foto rumah si anak, sungguh menyedihkan. Rumah panggung, sepetak, tidak mempunyai WC. Lantainya terbuat dari papan. Si anak pernah terjatuh terperosok karena lantainya menganga lantaran kayunya diambil orang tuanya untuk masak.
Tuty hanya bisa menangis sambil geleng-geleng kepala. Sampai sebegitunya. Hatinya pilu seperti diiris-iris. Betapa melaratnya. Betapa papanya. Dan juga… betapa sakitnya ketika si anak terjatuh ke kolong, dan andaikata itu terjadi pada Tiyas. Oh, Tiyas… anak semata wayangnya yang cantik.
Segera Tuty menelepon si Tiyas melalui WA.
“Lapo, Nduk?” tanya Tuty.
Lama kemudian Tiyas membalas: “Lagi nonton TV, Bu.”
“Nggak belajar?”
“Sudah tadi.”
“Sekarang nonton opo di TV?”
“Iki lho Bu berita yang viral sekarang, soal tunjangan rumah untuk anggota dewan, Rp 50 juta per bulan. Weleh… weleh akeh men (banyak sekali) ya, Bu. Enak ya Bu, sudah dapat gaji dan tunjangan bulanan untuk ini-itu masih dapat bantuan kontrak rumah setiap bulan. Apa Ibu juga dapat bantuan kontrak rumah dari majikan Ibu?”
”Husss… Terus berita apa lagi, Nduk?”
“Terus iki Bu sing viral, wakil menteri dicekel (ditangkap) KPK. Weleh… weleh… mobilnya 22, sepeda motore ya banyak. Orang ini ya Bu yang dulu koar-koar “koruptor harus dihukum mati”. Gak tahunya sekarang korupsi dan lucunya nangis-nangis minta amnesti Presiden.”
“Terus kamu nggak ngikuti berita anak yang mati karena cacingan?”
“Ngikuti Bu, tapi gak mentolo (tidak tega).”
“Ya sudah. Sudah makan, Nduk?”
“Sudah Bu, si Mbah masak ikan mujaer disemur. Tapi tadi kompor elpijine rewel, terus si Mbah masak memakai kayu. Kata Mbah kangen masak geni kayu,” kata Tiyas sambil tertawa.
“Biyuh… blai iki… jangan-jangan kayu dinding dapur dicukili Mbokku!”
Tiyas tertawa-tawa. Keduanya kemudian tertawa bareng-bareng. (*)
