Rojali yes, Rohana no

Posted by : wartajab Juli 28, 2025

Itu dia si jali-jali

“Cak, ngapain?” tanya Tuty via pesan Whatsapp ke Om Jon.

“Lagi di Balai Kota,” jawab Om Jon.

“Cak, Minggu besok ada waktu kagak?” tanya Tuty.

“Memangnya ada apa, Tuty?”

“Kalau repot gak usah saja.”

“Lho, aku kan belum jawab repot atau tidak, kok sudah kamu jawab sepihak kalau aku repot (moji tertawa).”

“Mau gak Minggu besok nemani nge-mall?”

Nge-mall. Hmmm… sudah tidak sekali dua kali Tuty minta ditemani nge-mall atawa jalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan. Sudah tidak terhitung si Tuty minta ditemani ke mall.

Tuty tidak pernah neko-neko minta ditemani selain ke mall. Mall seolah menjadi tempat favorit Tuty kalau pas libur kerja.

Bos Tuty memang taat peraturan kerja. Minggu adalah haknya Tuty untuk libur seharian. Tidak itu saja, bosnya ini juga taat jam kerja. Meski tinggal seapartemen, setelah melayani makan malam, selesai sudah tugas Tuty.

Hari Minggu free bagi Tuty, dan Tuty akan pergi dari apartemen yang luasnya segitu-segitu saja untuk melepas penat. Bosan setiap hari tinggal di apartemen. Pergi ke mall adalah kesukaan Tuty, selain gratis, bisa cuci mata.

Hanya itu saja? Tidak belanja? Om Jon paham, mall bukanlah tempat Tuty untuk belanja. Baju-baju, celana, tas, sepatu, sabuk, dan asesoris lainnya yang dipajang bukanlah untuk Tuty.

Bagi Tuty cuma melihat barang-barang tersebut sudah puas hatinya–Barang-barang yang dipajang di manekin di balik etalase kaca. Bagi Tuty bau mall yang wangi sudah membuatnya terhibur. Juga toiletnya yang bersih. Bagi Tuty, aroma pop corn di mall saja sudah cukup membuatnya bahagia.

“Gimana Cak… mau gak nemani aku?”

Om Jon seperti tersadar, segera balas WA Tuty.

“Oke Tuty-ku cantik, apa yang pernah aku tolak setiap ajakanmu nge-mall.”

“Kok lama jawabnya. Berat ya?”

“Kutemani… kutemani Tutyyyyyy…”

Ternyata bukan hanya Tuty yang suka nge-mall tapi tidak belanja. Ini yang sudah lama diamati Om Jon, sementara Tuty–mungkin–tidak menyadari. Kadang rombongan, entah anak-anak muda, emak-emak atau keluarga.

Tersebab itu rombongan seperti Tuty terjuluki rojali alias rombongan jarang beli, atau mungkin tepatnya tidak beli sama sekali.

Mereka, selagi tidak dilarang masuk mall, cuek-cuek saja. Bisa jalan seharian. Bisa juga dalam sehari pindah dari mall ke mall. Kalau pun nongkrong: beli minumnya segelas tapi nongkrongnya bisa berjam-jam. Cuek saja yang penting hepi…

“Minggu jam sembilan kutunggu di tempat biasanya ya, Cak!”

“Okay Tuty… Okay… ” jawab Om Jon.

“Ohya Cak, aku pakai topi dan kacamata gak?”

“Terserah kamu sajalah, Tuty.”

“Kok gitu. Kalau ngakunya perhatian ke aku tidak begitu bilangnya.”

“Bilangnya bagaimana?”

“Aduh Tuty… sungguh kau mirip Aiswarya Rai kalau pakai kacamata, dan aku senang melihatnya.”

“Ohya… ya… sungguh kau mirip Aishwarya Rai. Aku akan lebih bahagia melihatmu pakai kacamata.”

Kacamata gelap itu dulu dibeli Om Jon di Terminal Kampung Rambutan. Pas dia baru balik dari Surabaya. Kasihan dengan pedagangnya dia pun membelinya. Harganya Rp 10.000.

Setelah dilihatnya kacamata itu cocok dipakai Tuty maka Om Jon lantas menghadiahkannya ke Tuty pas ultahnya yang ke-25. Sejak itu setiap nge-mall Tuty selalu pakai kacamata itu.

Memang, di mall Tuty hanya jalan-jalan. Tidak belanja. Itu sebabnya dia juga tahu diri: tidak sok-sokan dengan tanya-tanya harga (toh sudah ada harga di labelnya). Kalau melihat-lihat memang ya, tapi pantang tanya-tanya (harga maupun bahan).

Tuty  seolah tahu diri dan tidak mau dicap rombongan hanya nanya (rohana). Dia sudah sadar pelayan yang ditanyai juga ogah-ogahan menjawab. Si pelayan, meski tersenyum dan ramah (jalani tugas saja), toh dalam hatinya nyeletuk: “lu siapa?” atau “kelas lu bukan di sini!”

“Cak… Minggu besok apa perlu kubawakan bekal nasi?”

“Hala-hala Tuty… kenapa repot-repot bawa bekal nasi segala… depan mall kan banyak warteg.”

“Sampean traktir ya, Cak!”

“Pastilah lah Tuty. Apa ke mie ayam kesukaanmu bawah jembatan penyeberangan?”

“Matur suwun ya Cak Jono… eh Om Jon… atas kebaikannya!”

palinglah enak si orang bujang sayang

ke mana pergi ke mana pergi tiada yang m’larang (*)

RELATED POSTS
FOLLOW US