Jangan Bilang Kamu Jelek

Posted by : wartajab Juli 25, 2025

“Jangan bilang kamu jelek!”

Terngiang ucapan Om Jon itu, berulang-ulang, sampai Tuty benar-benar hapal.

Biasanya Om Jon bilang begitu setiap kali habis memotret Tuty. Tentu ada penyebabnya Om Jon bilang begitu.

Sebab, setiap habis dipotret Tuty selalu bilang begini, “Jelek ya, Cak?” Terlihat malu-malu melihat fotonya di layar HP.

Sekarang Om Jon akan segera bilang begini setiap selesai memotret Tuty, seraya setengah teriak, “Jangan bilang lagi kamu jelek!”

Tuty awalnya tertegun. Menatap Om Jon yang belakangan minta dipanggil “cak” itu (karena sebagai orang Surabaya merasa lebih nyaman disapa “cak” daripada “om”). Dahinya berkerut.

“Lantas bilang apa, Cak?” tanya Tuty dengan lugu.

“Bilangnya begini Tut, ‘Aku cantik ya, Cak?'”

“Hadah….” Tuty tertawa. “Muka jelek begini minta diakui cantik. Tidak lah!” Pekik Tuty.

“He Tuty… aku mau tanya ke kamu, pernakah kamu dengar ada orang bilang kamu jelek?”

Tuty mengernyitkan dahinya, menatap Om Jon sambil mengernyitkan matanya. Wajah Tuty boleh dikata setengah cemberut setengah bahagia.

“Yaaa… nggak ada siiiih…”

“Nah itu berarti kamu cantik. Orang-orang itu sebenarnya takjub lihat kamu, cuma mereka tidak mau jujur. Para wanita  takut tersaingi. Mereka hanya membatin, ‘penjual ikan itu cantik sekali, tentu kalah aku kalau dibandingkan’,” kata Om Jon.

“Sudah, Cak… sudah… !” teriak Tuty.

“Bagaimana mereka tidak iri, melihat wajahmu yang polosan begini saja sudah kalah bersaing, apalagi kalau kamu dandan, pakai make up yang mahal-mahal, mereka sudah mendekap suaminya erat-erat supaya tidak lari ke kamu,” kata Om Jon lagi.

“Sudah Cak… sudah… kepalaku mau meletus ini kamu sanjung-sanjung terus,” kata Tuty sambil menutup telinganya sambil geleng-gelengkan kepalanya.

Begitulah Tuty, setiap sore hingga malam, duduk di bangkunya di lapak pinggir jalan Pasar Rebo. Tuty adalah satu dari bakul ikan segar yang berjajar sepanjang trotoar Pasar Rebo.

Setiap orang yang lewat, yang terjebak macet, atau para wanita yang duduk di dalam mobil ber-AC dan wangi yang melata-lata karena macet, akan berkata begini dalam hati setiap kebetulan melihat Tuty, “Gila… cantik amat si mbak itu.”

Tuty tidak merasa cantik. Tuty biasa saja dan tanpa canggung meski mengenakan kaos 100 ribu dapat tiga dan pinggul sampai ke bawah dibebat kain seadanya. Tentu akan lain ceritanya kalau Tuty tidak duduk di belakang ikan segar nan bearoma amis, tapi di salon atau di rumah gedongan.

Masak sih tidak ada yang bilang, tepatnya “mengingatkan”, kalau Tuty itu cantik?  Ah… bederet-deret orang yang bilang “kamu itu cantik loh” tapi Tuty cuek saja. Dia tahu kalau yang ngomong begitu laki-laki pasti ada maunya.

Tapi kini, sejak kenal Om Jon, Tuty sering mematut-matut di cermin pas pagi pulang jualan. Betul juga yang dikatakan orang selama ini, batinnya, sebetulnya wajahku ini tidak jelek-jelek amat.

“Oh, andaikata kubedaki sedikit, pakai gincu tipis,  eye shadow sekadarnya, atau pakai bulu mata kayak di mall-mall itu, hmmm… Sudah… sudah… begini-begini saja Cak Jon sudah menyanjungku setinggi langit.” Tuty tersenyum.

Tuty tetap mematut di cermin.

“Halah… halah… Tuty… Tuty, orang kamu itu bakul ikan kok pakai bulu mata palsu seperti di mall-mall itu, pakai gincu dan eye shadow… Kamu itu jualan ikan atau jual diri?” Tuty tertawa cekikan sendiri. (*)

 

Penulis: Budi

RELATED POSTS
FOLLOW US