“Hai Tuty, sedang apa kamu sekarang?” tanya Om Jon melalui Whatsapp.
Tuty membuka kiriman Om Jon itu, tapi tidak segera menjawab. Biasanya, begitu di-WA Om Jon–kalau pas tidak sibuk bekerja–Tuty langsung membalas.
Kali ini centang biru tapi Tuty tidak lekas menjawab. Itu yang membuat Om Jon penasaran. Meski begitu Om Jon tidak mengejar dengan pertanyaan lagi.
Baru satu jam kemudian Tuty membalas. Pendek saja. Satu kata saja.
“Sumpek, Cak!” jawab Tuty.
Om Jon lantas mengirim emoji wajah berkerut dahi. Hanya itu saja, tidak berkata-kata. Om Jon tahu, percuma saja tanya penyebabnya sumpek via WA, pasti tidak dijawab Tuty. Tapi nanti kalau ketemu si “Aishwarya Rai” ini langsung meluapkan hatinya bak air dari bendungan jebol.
Tuty hanya tiduran di tempat tidurnya. Sudah off kerja. Waktu untuk dirinya sendiri. Kerennya my time. Wajahnya menghadap tembok. Bantal sudah kuyup dengan linangan air matanya. Sedih, marah, kecewa.
Apakah marah kepada Om Jon? Bukan, bukan. Tuty tidak pernah marah kepada Om Jon, meski tidak sekali dua kali dikecewakan Om Jon.
Tuty marah pada saudara-saudaranya, khususnya saudaranya di kampung. Lho? Penyebabnya apa lagi kalau bukan duit… duit… duit… “Apa dikira aku ini bos… setiap butuh duit larinya ke aku!” pekik Tuty dalam hati.
Ini gara-garanya si Nunik, adiknya di kampung, lewat WA mau pinjam uang Rp 3 juta. Katanya untuk nambahi si tole, anaknya yang nomor dua, mau sunat bulan depan.
Memang ikut khitan massal gratis, tapi tetap saja itu hajatan. Tetap ada selamatan, ada terop (tenda), masak untuk tamu yang datang, sewa sound system (bukan horeg lho), dll… dll.
Tuty sudah bilang tidak punya duit, tapi adiknya tidak percaya begitu saja. Tuty sudah bilang bulan kemarin tabungannya sudah ludes untuk biaya anak semata wayangnya masuk SMP.
“Masak sih Mbak sampean di Jakarta sana tidak punya simpanan?” tanya adiknya.
“Ora onok Nik. Sudah kepakai untuk ngragati sekolah Tiyas,” jawab Tuty.
“Masak jauh-jauh nyambut gawe (bekerja) di Jakarta gelang atau kalung saja nggak punya?” tanya adiknya lagi.
Tuty murka, tapi masih kuasa mengedalikan diri.
“Ini ya ada kalung, tapi ya ora pantes Nik wong wedok (perempuan) lehernya telanjangan,” kata Tuty.
“Ya kalung itu dulu toh Mbak sampean gadaikan, nanti habis hajatan kukembalikan. Plis… tolong kali ini saja, Mbak e.” Tulis Nunik lagi.
Lha dua bulan lalu budhe-nya dari pihak ibu juga begitu. Pagi-pagi sekali telpon Tuty.
Dikiranya ada kejadian penting. Tidak tahunya, “Tut, budhe pinjamono uang ya. Bapak’e mau belikan Joko (anaknya yang bungsu) sepeda motor tapi masih kurang dua juta. Nanti mulai bulan depan kuangsur. Sebentar lagi biar Joko kirim rekeningnya ke kamu.”
Begitu terus. Enam bulan lalu sepupunya juga mau pinjam uang. Katanya untuk memperbaiki terasnya yang ambrol karena kayu penyangganya hancur dimakan rayap.
Belum lagi kalau bulan besar, musimnya orang hajatan, ibunya tak henti mengingatkan berbagai tanggungan yang harus dikembalikan Tuty.
“Dulu si Jum titip beras tiga karung… dulu Marni naruh gula 50 kg… dulu Sriyatun titip daging 5 kg…” Dst… dst…
Dan itu kewajiban Tuty untuk mengembalikan karena mereka titip barang pas pernikahan Tuty dengan Sudiro. Sementara Tuty dan Sudiro cerai. Yang membuat Tuty mual lantaran Sudiro tidak mau tahu. Seolah semua kewajiban mengembalikan jadi tanggung jawab Tuty, karena yang punya hajat orang tua Tuty (he… he…). Lucu, nikahnya berdua tapi beban mengembalikan jadi tanggung jawab Tuty.
Tuty pusing. Tuty hanya bisa menghadap tembok sambil menangis. “Aku iki mung babu (aku ini hanya pembantu rumah tangga). Jangan karena kerja di Jakarta seakan-akan duitnya banyak!”
Tuty pun tertidur. Dalam tidurnya dia menjadi pengusaha kaya raya. Rumah dan mobilnya mewah banyak. Tuty bahagia dengan suaminya yang tajir dan sultan. Tapi kemudian suaminya ditangkap KPK dan dikenakan ropi orange. Dan yang membuat Tuty kemudian terbangun ternyata suaminya yang sultan dalam mimpi itu tidak lain dan tidak bukan Om Jon alias Cak Jono.
“Oalah… aku iki mung babu kok ya mimpi aneh-aneh.”(*)
