Oleh : Emi Suy
Buku ini dibuka dengan pengantar penuh kehangatan dari Bang Riri Satria. Di sana, ia memotret karya-karya Umi Rissa Churria melalui lensa cinta dan rindu kepada Rasulullah. Namun lebih dari itu, pengantar tersebut menyingkap lapisan-lapisan makna yang menyala di setiap bait: spiritualitas yang sunyi namun dalam, kedekatan dengan Allah yang dirawat lewat bahasa cinta, penghormatan pada tradisi Islam yang menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan, juga perjalanan ruhani yang dijalani tidak dengan gegap gempita melainkan dengan nyala hening dari dalam dada. Pengantar itu menjadi peta kecil yang menuntun pembaca memasuki dunia batin penyair, dunia yang ditata oleh harap dan duka, pujian dan tangis, rindu yang tidak pernah benar-benar usai.
Saya menerima buku ini beberapa hari lalu bersama beberapa buku lainnya. Entah mengapa, saya merasa perlu menundanya. Saya menunggunya sampai malam benar-benar mengheningkan diri, ketika suara-suara kecil menjadi lebih nyaring dan dada terasa lebih bersih untuk mendengar sesuatu yang tak terucap. Saat itulah saya membuka halaman pertama. Saya membaca perlahan, seolah khawatir melewatkan satu pun desah napas yang terselip di sela-sela kata.
Buku ini tidak ditulis untuk menjelaskan, melainkan untuk menemani. Ia tidak memberi jawaban, tetapi menghadirkan suara. Lirih, patah, kadang hanya berupa desah rindu yang nyaris tak terdengar. Umi Rissa Churria menenun puisi-puisinya dari benang paling halus: cinta kepada yang tak tampak namun begitu nyata, kepada Rasulullah yang hadir dalam sunyi, dalam getar doa, dalam embun yang jatuh di antara sujud dan sepi.
Kita tidak perlu menafsir semuanya. Duduk saja bersama setiap bait. Biarkan ia luruh perlahan ke dalam dada. Puisi-puisi ini tidak mengejar akal, tetapi mengetuk pelan ruang hati yang lama tertutup kabut dunia. Jika sesekali air mata terbit, jika dada terasa hangat, jika langkah hati seakan diajak pulang, barangkali itulah maksud sejatinya. Kumpulan ini tidak sekadar dibaca, melainkan dihayati.
Pada dini hari, lampu meja masih menyala ketika saya menelusuri jejak penulisnya. Di sela hembus napas yang tersengal, Umi Rissa Churria menunduk, menorehkan kata, lalu menengadah memastikan langit belum menutup pintunya. Ia sedang mengumpulkan serpih-serpih kerinduan, menenunnya menjadi selimut tipis yang kelak ia bentangkan di hadapan Nabi, berharap sujudnya lebih hangat dan doanya lebih tegak.
Umi Rissa Churria percaya bahwa cinta bukan sekadar emosi, tetapi gejala kosmik yang memaksa manusia bergerak. Dalam puisi “Selawat” ia menegaskan bahwa seindah apa pun asmara antar manusia, tidak ada banding bagi kasih Nabi. Rindu kepada Rasulullah adalah rindu yang melampaui jarak sejarah. Kita tidak hidup di masa beliau, tetapi getarnya masih terasa di dasar dada. Seperti manis kurma yang bisa dicicip meski tak pernah memetik langsung dari kebun Madinah.
Judul-judul puisinya ibarat halte dalam perjalanan spiritual. “Mosaik Warna Jiwa” mengajak pembaca bercermin pada serpihan diri yang belum utuh. “Surat dari Chinureze” membuka jendela pada ragam budaya Islam. “Bangsal Cinta” menjelma ruang perawatan luka. Tercium aroma balsem bercampur wangi kasturi. Pada bagian “Kepada Rasulullah” kalimatnya merunduk sedalam-dalamnya. Tidak ada retorika, hanya pengakuan polos dari tangan yang gemetar menulis. Takut satu titik keliru bisa menjatuhkan makna.
“Kitab Penerimaan” menunjukkan bahwa iman bukan hanya tentang meraih cahaya, tetapi juga merengkuh bagian diri yang gelap. Setiap noda adalah alasan untuk bersujud lebih khusyuk. Dalam “Tanda Kelahiran”, Umi Rissa Churria menambah lapisan refleksi bahwa manusia terlahir membawa jarak dan rindu sekaligus. Kelahiran adalah ibadah, ajal hanya jembatan.
“Berkedip di Antara Lentera Malam” menunjukkan betapa rapuh nyala manusia. Lentera mudah padam, sebab angin dunia selalu bergeser. Namun dalam kedip sesaat itu, Umi Rissa Churria menangkap wajah purnama. Ia menemukan kehadiran ilahiah bukan di puncak pesta, melainkan di celah lengang. Di detik ketika harapan hampir hilang.
Lalu “Kota Nabi” membawa Madinah sebagai ruang batin. Tangis dan haru berpadu di lorong Raudah. Kubah hijau bukan semata arsitektur, melainkan kubah ingatan. Ketika ia menulis tentang Jabal Magnet, kita ikut merasakan gravitasi tak kasatmata yang menarik bukan hanya logam, tetapi juga ragu dan takjub kita.
“Rahsa Cinta” menyingkap rahasia bahwa setiap desah zikir adalah pintu menuju ketiadaan diri. “Purnama di Puncak Tursina” mempertegas momen transenden. Bukit Sinai bukan sekadar lanskap sejarah Musa, melainkan bukit tempat siapa pun menegakkan kalimat Iyyaka na’budu, Iyyaka nasta’in. Titik tertinggi justru melahirkan sujud paling dalam.
“Seketika” dan “Adaku Sebab Cintamu” menjadi jeda yang menyadarkan kita bahwa kesadaran manusia hanya mekar sejenak, lalu gugur. Namun gugur bukan musnah. Serpihan kelopak itu akan disapu angin menuju ladang makna yang baru. Puisi-puisi ini membuat kita ingin menarik napas dalam-dalam, dan bersyukur bahwa kita masih bernapas di ruang ciptaan yang sama.
Bagian penutup diisi oleh “Sembahyang Cinta” dan “Iftitah Jalan Cinta”. Di titik ini, puisi menjelma liturgi. Setiap baris menjadi rakaat kecil. Setiap bait adalah salam. Puisi tidak lagi sekadar aktivitas estetis, melainkan ziarah batin. Penyair seolah berkata, bila air wudu tak cukup, manusia masih punya air mata. Bila kata-kata tidak mampu menampung rindu, maka diam pun bisa menjadi pengganti.
Dan akhirnya muncul “Kecup Selalu untuk Rasulullah”. Judul ini ringkas, tetapi mengandung genting. Ia menegaskan bahwa cinta sejati harus terus dirawat. Bukan peristiwa tunggal, tapi kehadiran yang dijaga hari demi hari. Seperti petani yang sabar menunggu musim, seperti ibu yang tak pernah lelah menyusui bayi.
Catatan ini hanyalah rekah kecil dari semesta rindu yang jauh lebih luas. Ketika buku ini ditutup, mungkin kita tidak memahami semuanya. Namun sesuatu akan bergetar pelan di balik tulang rusuk. Umi Rissa Churria telah membuktikan bahwa puisi bisa menjadi jalan pulang. Ia memulai langkah dengan tinta, dan menuntaskannya dengan air mata, dengan senyum, dan dengan satu nama yang terus ia sebut dalam setiap helaan napas panjang dan dalam : Muhammad.
Dan bila sampai di akhir halaman kau tak tahu harus berkata apa, cukup ucapkan satu: sholawat.
Di sanalah semua puisi kembali berakar.
Dan segala rindu menemukan rumah.
Ada buku yang selesai dibaca, lalu terlupa. Tapi buku ini justru mulai hidup setelah halaman terakhir ditutup. Puisi-puisi Umi Rissa Churria bukan sekadar kata, melainkan langkah-langkah kecil menuju ruang batin–tempat cinta tumbuh tanpa suara dan rindu menyala tanpa harus dimiliki.
Ia menulis bukan untuk menjelaskan, tapi menghidupkan. Bait-baitnya lembut, tapi punya nyala yang pelan menusuk dada. Kita tidak diajak berpikir, melainkan diminta diam sejenak, mendengar bisik dari dalam diri sendiri.
Ketika cinta kepada Rasulullah tak bisa dijelaskan logika, puisi-puisi ini datang sebagai pengantar rasa. Dan ketika doa terasa kelu, setiap bait menjadi sejenis sajadah yang dibentangkan pelan, mengantar kita pulang kepada Yang Dicintai.
Jika setelah membaca ini kau merasa hangat di dada, tak perlu buru-buru mencari arti. Barangkali, itulah rindu. Dan cukuplah satu kata untuk menjaganya tetap menyala: Sholawat Baginda Rosul.
Cengkareng Barat, 5 Juli 2025
Tentang Buku :Kecup Selalu untuk Rasulullah
Kitab Puisi Rissa Churria
ISBN: 978-623-89220-3-1
Kover dan Atak: Wahyu Bray Iskandar
Penerbit: TARESIA bekerja sama dengan:JSM Press
Komunitas Jagat Sastra Milenia, Jakarta
Cetakan Pertama: Agustus 2024
88 hlm, 14 X 20 cm
Emi Suy, lahir di Magetan, Jawa Timur, Februari 1979. Namanya tercatat dalam Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2018). Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, di antaranya Tirakat Padam Api, Trilogi Sunyi (Alarm Sunyi, Ayat Sunyi, Api Sunyi), dan Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami, serta buku esai Interval. Puisinya telah dimuat di berbagai media nasional dan mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan. Ia juga pendiri komunitas Jejak Langkah dan kini memilih jalan kepenulisan secara independen.
