Produk tekstil berbahan dasar serat rami karya mahasiswa Universitas Padjadjaran yang dipamerkan pada Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Sabtu (9/9/2025). ANTARA/Sean Filo Muhamad
BANDUNG – Tim mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menghadirkan produk tekstil berbahan dasar serat rami, yang dipamerkan pada Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025.
“Kami memilih rami, karena seratnya lebih kuat dari kapas dan ketersediaannya mulai meningkat di dalam negeri. Ini bisa jadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada kapas impor,” kata Perwakilan Tim Mahasiswa Unpad, Fathia pada gelaran KSTI 2025 yang digelar di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Sabtu.
Tidak hanya menawarkan keunggulan dari sisi bahan, Fathia menyebutkan inovasi ini juga menekankan pentingnya proses produksi yang ramah lingkungan.
Dalam pengolahannya, kata dia, timnya menggunakan teknik pemisahan getah dan serat yang melibatkan jamur, yang dinamakan bio degumming.
Baca Juga: Institusi Pendidikan (Tetap) Butuh Tenaga Pendidik dari Kalangan Pelaku Seni
Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan teknik kimia konvensional yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Kami ingin menciptakan proses yang tidak hanya menghasilkan benang berkualitas, tapi juga memperhatikan dampak lingkungan. Karena itu, kami memanfaatkan pendekatan biologis,” ujarnya.
Fathia menyebutkan produk akhir dari inovasi ini, antara lain kain anti air, sepatu berbahan kain rami, hingga interior rumah tangga, seperti bantal dan pelapis kursi.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyoroti urgensi penguatan kapasitas teknologi dan talenta nasional sebagai fondasi transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan.
Menurutnya, dengan potensi sumber daya alam strategis, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan hilirisasi dan lompatan industrialisasi bernilai tambah tinggi.
“Penguasaan sains dan teknologi harus maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para peneliti dan akademisi memiliki tugas mulia dalam memajukan industri dan menghasilkan SDM unggul,” tutur Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Baca Juga: Komnas HAM: Penggunaan Atribut One Piece Bentuk Kebebasan Berekspresi
KSTI 2025 dilaksanakan pada 7-9 Agustus 2025. Kegiatan ini mengundang lebih dari 350 pimpinan perguruan tinggi di Indonesia, serta 1.000 peneliti terbaik yang ada di Indonesia.
Konvensi ini menitikberatkan pada integrasi riset, pendidikan tinggi, dan industri dalam delapan sektor prioritas, yakni pangan, energi, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor), serta material dan manufaktur maju.
Seluruh sektor tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan strategis Indonesia menuju kemandirian teknologi dan peningkatan daya saing global.
