Pengemis di makam Sunan Gunung Jati. Foto: Merdeka.com.
CIREBON – Kepolisian Resor (Polres) Cirebon Kota sedang mendalami dugaan adanya sindikat pengemis yang beroperasi di kawasan wisata religi Makam Sunan Gunungjati, terutama yang melibatkan anak di bawah umur.
Kepala Polres Cirebon Kota AKBP Eko Iskandar di Cirebon, Kamis, mengatakan pihaknya tidak akan ragu menempuh langkah hukum apabila ditemukan unsur pidana dalam praktik mengemis di lokasi tersebut.
“Kalau ada indikasi eksploitasi anak atau keterlibatan jaringan tertentu, tentu akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Ia menyampaikan saat ini sedang dilakukan penertiban pengemis, pengamen, dan oknum penjaga kotak amal oleh tim gabungan dari forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda).
Menurut dia, forkopimda telah melakukan sejumlah rapat bersama instansi terkait serta menjalin komunikasi dengan pihak Keraton Kanoman Cirebon yang menyatakan dukungan terhadap langkah penertiban tersebut.
Baca Juga: Tim Gabungan Menertibkan Peminta Sedekah di Makam Sunan Gunung Jati
“Kita ingin kondisi tetap tertib dan nyaman bagi para peziarah. Kesultanan dan masyarakat sekitar sangat mendukung,” ujarnya.
Dari pendataan sementara, kata dia, jumlah pengemis yang pernah terdeteksi di kawasan itu mencapai sekitar 300 orang, meskipun angkanya bersifat fluktuatif karena banyak yang datang dari luar daerah.
“Inilah yang jadi tantangan. Karena mobilitasnya tinggi, kita susun sistem siapa berbuat apa dan siapa bertanggung jawab agar wilayah ini tidak terkesan bebas,” katanya.
Ia menuturkan untuk menjaga ketertiban, sebanyak 41 personel gabungan dikerahkan setiap hari agar tidak ada praktik mengemis di kawasan tersebut.
Selain tindakan lapangan, lanjut Eko, forkopimda pun menyiapkan program pembinaan jangka panjang berupa pelatihan profesi dan pembekalan etika kepada masyarakat sekitar kawasan wisata religi.
Baca Juga: Disbudpar Kota Cirebon Mengandalkan Festival Budaya Gaet Wisatawan
Kapolres menegaskan seluruh upaya tersebut bertujuan menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan layak sebagai destinasi wisata keagamaan di wilayah Cirebon.
“Ini warisan leluhur yang harus dijaga bersama. Kalau langkah ini dilakukan konsisten, kawasan ini akan menjadi kebanggaan bagi Cirebon,” ucap dia.(ant)
