Urgensi Memupuk Rasa Gembira dalam Ketaatan

Posted by : wartajab April 11, 2025

Penulis: Ustadz Triyoga AK,S.Ag

Satu tingkatan (maqom) yang harus diraih oleh orang beriman dalam kehidupan spiritualnya adalah merasa gembira ketika melakukan suatu ketaatan. Untuk mencapai tingkatan itu dibutuhkan upaya secara masif dalam aspek ubudiyahnya.

Hal demikian menjadi sangat penting, yakni sebagai bentuk tindakan preventif (pencegahan) dan juga kuratif (perawatan) terhadap adanya tendensi perasaan gembira dalam kemaksiatan. Suatu misal, ketika seseorang sedang galau atau penat dengan suatu pekerjaan, bisa jadi sudah terbiasa melampiaskannya ke tempat-tempat maksiat, walau mungkin hanya sekadar ‘numpang ngopi’. Nah bagi orang beriman, hal itu harus dilawan dengan cara memupuk rasa gembira dalam ibadah.

Sepertinya hal itu imposible, sebab dalam perspektif orang awam (kebanyakan manusia), ibadah lebih merupakan suatu beban, sehingga terasa berat. Ini wajar, karena ketaatan itu kontradiktif dengan syahwat dan nafsu yang selalu menuntut kepuasan dzahiriyah. Padahal, secara hakiki, ketika seseorang mulai merasakan manis dan gembiranya dalam ibadah, maka akan muncul perasaan sedih dan galau ketika kecebur ke dalam suatu kemaksiatan. Mengapa demikian, sebab syahwat dan nafsunya telah terkekang, sehingga menimbulkan kekacauan batin yang dahsyat.

Pada akhirnya harus diakui bahwa ketaatan dalam beragama adalah sebuah solusi untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan sejati. Al-Qur’an jelas mengatakan: “Ala bidziklillahi tathmainnul qulub,” (Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang). Bahkan Allah SWT juga mengharapkan hamba-hamba-Nya agar selalu gembira dengan rahmat dan karunia-Nya. Simak QS Yunus ayat 58 berikut ini:

Qul bifadhlillahi wa birahmatihi fabidzaalika falyafrahuu, huwa khairum mimmaa yajma’uun,” (Katakan {wahai Muhammad} dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan hal itu hendaklah mereka bergembira, itu lebih baik dari apapun yang mereka kumpulkan).

Ustadz Triyoga AK, S.Ag.

 

Karunia dan rahmat Allah itu sangat luas dan bahkan tiada batas, yaitu mencakup ampunan secara total kepada hamba-hamba yang mungkin usianya habis dalam kemaksiatan lalu kembali kepada Allah kendati dengan tertatih-tatih. Karunia itu juga meliputi kemurahan maksimal Allah, yaitu dengan memberi rizki kepada semua makhluq tanpa kecuali, sehingga setiap makhluq dapat menjalani hidup dengan rileks, aman dan terhindar dari rasa lapar.

Dengan rahmat-Nya pula, Allah tidak akan menghukum atau mengadzab umat Nabi Muhammad saw ketika dalam perjalanan hidupnya terkadang lalai dan berbuat dosa. Allah juga tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang hamba tersebut tidak mampu menanggungnya. Allah juga tidak akan menimpakan ujian yang berat seperti yang pernah ditimpakan kepada umat-umat nabi terdahulu sebelum Rasulullah saw.

Terlalu banyak untuk disebutkan tentang keluasan karunia dan rahmat Allah tersebut. Karena itu sudah seharusnya orang beriman bergembira, dan tidak larut dalam kesedihan. Di ayat tadi jelas Allah mengatakan: “Huwa khairum mimmaa yaj’mauun,” (Hal itu lebih dari pada apapun yang mereka kumpulkan).

Yang di maksud dengan apa yang mereka kumpulkan adalah harta dunia. Kebanyakan manusia menganggap bahwa tolok ukur kebahagian terletak kepada hal itu, sehingga mereka berjuang untuk meraih dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Perjuangan itu acap membuatnya lalai dari mengingat Allah.

Efek destruktifnya jelas, yaitu munculnya ketama’an (rakus) dan kesombongan. Kendatipun harta telah diraih, misalnya, maka itu akan melahirkan kegembiraan semu dan sementara. Suatu ketika bisa jadi akan berubah menjadi kekacauan dan kegundahan. Ada beberapa fakta di tengah masyarakat, orientasi mewariskan harta kepada ahli waris ternyata justru akan menimbulkan persoalan pelik terkait harta itu sendiri.

Cara menumbuhkan gembira dalam taat itu, pertama, dengan cara menstigma suatu perbuatan maksiat sebagai hal yang buruk dan berbahaya. Suatu misal menenggak minuman keras, maka harus dikuatkan kesadaran bahwa itu sangat beresiko terhadap kesehatan tubuh. Karena itu tidak layak seseorang menaruh harapan bahagia kepada sebotol minuman. Nah di sinilah perlunya dicoba bagaimana rasanya gembira ketika melakukan sebuah ketaatan.

Cara yang kedua yaitu dengan mengubah mindset (pola pikir), yakni dengan memandang kehidupan ini sebagai hal yang sederhana. Artinya, segala hal yang berkaitan dengan hamblum minan nas (hubungan antar manusia) adalah bagian dari skenario Allah. Baik atau buruknya segala sesuatu merupakan ketetapan Allah yang pasti. Maka ketika melakukan suatu kebaikan kepada orang lain hendaklah itu murni karena niat mencari ridla Allah. Dengan begitu maka kita tidak akan pernah ambil pusing dengan perlakuan tidak mengenakan atau bahkan dzalim dari orang lain.

Cara berikutnya, perlunya kita menyimak nasehat Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda (dalam kitab Washiyatul Musthofa): “… Wa lissa’iidi tsalaatsu ‘alaamaatin, quutun halaalun wa mujaalasatul ‘ulamaai wash shalawaatul khamsu ma’al imaami,” (Bagi orang bahagia/gembira {dalam taat} itu ada tiga ciri: makanannya halal, duduknya bersama ulama, dan shalat lima waktu bersama imam.

Mengkonsumsi makanan yang halal dalam hadits tersebut, menurut Rasulullah, akan membuat hati dan agama seseorang lembut, serta tidak ada penghalang (hijab) bagi doa-doanya kepada Allah SWT. Sementara jika seseorang hanyut dalam makanan yang subhat dan haram maka hatinya akan mati, agama dan keyakinannya lemah, serta sangat sedikit ibadahnya. Jika sudah demikian maka ibadah akan terasa berat. Kata bahagia atau gembira pun ibarat “jauh api dari panggang.”

Langkah selanjutnya, jika seseorang ingin merasakan gembira dalam ketaatan, maka dia harus menyempatkan diri duduk bersama ulama. Maknanya adalah hadir di majlis-majlis ilmu untuk mendengarkan nasehat-nasehat agama dari para ulama. Rasulullah saw pernah mengatakan: “Liannal ‘ilma hayatul qalbi” (Karena sesungguhnya ilmu itu merupakan kehidupan hati).

Sabda Nabi saw tersebut menegaskan bahwa hati bisa hidup, dalam arti hati yang selalu ingat Allah sehingga akan merasa tenang dan gembira, maka dia harus diisi dengan nutrisi berupa ilmu atau nasehat kebaikan. Tanpa ada nutrisi ilmu agama, maka hati seseorang akan kian keras laksana batu. Kekerasan itu akan termanifestasi dalam sikap dan perilakunya yang sangat agresif terhadap urusan duniawi, dan apriori terhadap urusan ukhrowi.

Langkah jitu berikutnya untuk meraih gembira dalam taat adalah memaksakan diri untuk sesering mungkin melakukan shalat lima waktu bersama imam (berjamaah). Dalam perspektif pahala, jelas sekali bahwa shalat berjamaah bernilai 27 derajad. Sementara shalat sendirian di rumah hanya bernilai 1 derajad. Keutamaan lainnya, shalat berjamaah punya potensi besar diterima oleh Allah, kendati tidak khusu’. Itu adalah gambaran bahwa Allah sangat menyukai hamba-hamba-Nya selalu berjamaah/kebersamaan dalam segala aspek kehidupan.

Secara sosial, dalam berjamaah terkandung nilai silaturrahmi, karena terjadi interaksi bilateral antar sesama. Maka bukan tidak mungkin akan tercipta suasana keakraban dan muncul peluang-peluang yang berkaitan dengan perbaikan kehidupan secara kompleks. Dengan berjamaah pula akan terkondisi rasa saling tenggang rasa, saling peduli dan saling menggembirakan antara satu dengan yang lainnya.

Wallahu a’lam bish shawab

 


Ustadz Triyoga AK, S.Ag., adalah pimpinan Majlis Taklim Hubban Lil Iman, Cilangkap, Kota Depok, Jawa Barat. Majlis ini mengusung jargon: Mengisi Hati dengan Dzikir dan Thalabul Ilmi dan  misi: Amar ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan menghindari kemungkaran). Aktivitas:

  1. Pengajian rutin setiap Rabu malam Kamis (dzikir sadzili dan kajian ilmu agama)
  2. Pemberian santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa
  3. Menggelar tabligh akbar di setiap momen hari besar Islam
  4. Pembiayaan pendidikan kepada anak kurang mampu dan anak yatim ke sekolah berbasis Islam seperti pesantren
  5. Rencana ke depan, memberangkatkan para guru ngaji dan marbot masjid ke tanah suci (haji dan umroh)

Informasi:  (WA)  081219201911

Channel YouTube: Hubban TV

RELATED POSTS
FOLLOW US