
Penulis: Ustadz Triyoga AK,S.Ag
Rasulullah saw bersabda: “Idzaa kaana aakhiru lailatin min ramadhani bakatis samawaatu wal ardhu wal malaaikatu..” (Ketika datang akhir malam Ramadhan menangislah langit, bumi dan para malaikat).
What happened (Apa yang terjadi?): “Musyiibatan li ummati sayyidina Muhammad,” (Ada musibah yang akan menimpa umatnya nabi Muhammad saw).
Para sahabat yang mendengar sabda Rasululullah tersebut kaget, lalu bertanya: “Ayyu mushiibatin ya Rasulullah?” (Musibah apa yang akan menimpa kami ya Rasulullah?)
Rasulullah lalu menjelaskan: “Hiya dzahaabu ramadaana,” (Musibah itu adalah berpisah dengan bulan Ramadhan).
Bagaimana hal itu bisa menjadi musibah? “Li annad da’waati fiihi mustajabah, wash shadaaqatan maqbuulah,” (Karena sesungguhnya di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah oleh Allah, dan semua sedekah diterima).

Menarik untuk dicermati, bahwa terijabahnya doa dan diterimanya sedekah itu merupakan karunia yang sangat besar dari Allah SWT. Bukankah Rasulullah juga pernah mengajarkan agar kita banyak berlindung kepada Allah dari 4 keburukan, yang di antaranya adalah “doa yang tidak didengar (laa yusma‘)” dan “amalan yang tertolak (mardudah)”?
Sementara peluang untuk terhindar dari dua keburukan itu ada di bulan Ramadhan. Allah telah menetapkannya sebagai bulan yang adaftatif terhadap keduanya. Nah jika Ramadhan pergi maka hilanglah peluang emas dan besar itu bagi umat Nabi saw.
Sebab itu dengan kaca mata iman jelaslah bahwa berpisah dengan ramadhan adalah sebuah musibah besar. Saking besarnya hingga langit, bumi dan malaikat ikut menangis, menyesali dan menyayangkan atas kepergian bulan yang agung penuh berkah dan rahmat itu.
Maka seorang mukmin harus waspada dan berjaga-jaga sebelum datangnya musibah, terutama di 10 hari terakhir malam Ramadhan. Kewaspadaan itu mencakup intensitas ibadah secara maksimal, baik kuantitas maupun kualitasnya. Memperbanyak doa dengan penuh harap (raja’) dan bersedekah dengan penuh keikhlasan adalah dua hal yang harus menjadi skala prioritas.
Dua aspek ibadah itu akan membentuk dan menghiasi pribadi-pribadi mukmin yang muttaqin (jiwa yang bernilai ketaqwaan). Jika sudah demikian, maka sukseslah dia menjadikan bulan puasa sebagaimana yang dikatakan Allah la-‘allakum tattaquun (wasilah menuju ketaqwaan). Jelas sekali bahwa Allah berfirman: “Inna akkramakum ‘indallaahi atqaakum,” (Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa).
Jadi sebenarnya, perintah berpuasa dan menjalankan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan itu merupakan bagian dari skenario Allah yang hendak memuliakan hamba-hamba-Nya. Mengapa demikian, sebab orang yang mulia (taqwa) itu kata Allah rumah haqiqinya adalah di surga (innal muttaqiina fii jannatin wa ‘uyuun). Jika sekarang masih berada di dunia, maka itu bersifat sementara. Untuk kembali ke rumah haqiqinya dibutuhkan proses dan ujian. Puasa ramadhan adalah bagian dari proses itu.
Karena itu tidak heran jika Allah memiliki strategi tersendiri dengan menetapkan status hukum puasa Ramadhan itu “wajib” bagi orang-orang yang beriman. Jika tidak dengan strategi itu, maka dijamin tidak semua hamba akan senang dan sanggup menjalaninya.
Rasulullah saw sebagai “penyambung lidah” perintah Allah pun memberikan garansi, bahwa siapa yang senang dengan datangnya bulan suci Ramadhan, maka “haramallahu jazadahu ‘alan niiran,” (Allah haramkan jasadnya dari api neraka). Konotasi kata ‘senang’ tersebut adalah bergairah dalam beribadah dan bersemangat untuk memperbanyak doa dan sedekah sebelum datangnya musibah, yaitu berpisah dengan bulan Ramadhan.
Orang yang paling gelisah dan takut akan datangnya musibah itu tentu saja adalah orang yang paling fokus dalam ibadahnya di bulan Ramadhan. Dia terlanjur asyik dan nikmat dalam taqarrub ilallahi (dekat dengan Allah), terlanjur hanyut bahkan fana (lenyap) dalam lautan istighfar dan munajat kepada Allah, dan terlanjur terbuai dengan keasyikan beramal salih (infaq dan sedekah). Karena itu dia merasa sangat berat ketika harus berpisah dengan bulan Ramadhan.
Saking beratnya berpisah, maka ketika Ramadhan benar-benar telah berlalu, dia tetap menganggap dan memberlakukan bulan-bulan setelahnya seperti ramadhan bahkan melebihinya.
Maka menarik mencermati ungkapan seorang ulama bernama Ibnu Razak Al-Hambali. Dia mengatakan bahwa ada tiga indikasi ibadah puasa ramadhan seseorang itu punya atsar (bekas) setelahnya.
Pertama, dia akan semakin bergairah dalam beribadah di bulan-bulan setelah Ramadhan. Suatu misal, dia semakin rajin bersedekah dan senang dengan pekerjaan membantu dan meringankan beban sesamanya. Di hatinya semakin tumbuh bersemi rasa simpati dan empatinya. Itu karena dia tidak ingin musibah itu benar-benar terjadi, yaitu berpisah dengan ramadhan.
Kedua, ini menariknya, setelah beramal salih dia justru merasa gundah dan bersedih hati. Mengapa demikian, karena dia takut amalnya tertolak. Karena takut, maka dia mencoba beramal lagi dan beramal lagi. Maka dengan sendirinya amal kebaikannya akan terus bertambah. Ketakutan tertolaknya amal itu justru merupakan indikasi dari keikhlasan setiap kebaikan yang dilakukannya.
Ketiga, dia tidak pernah lupa berdoa kepada Allah setiap selesai beramal salih. Doanya adalah memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima, dan bukan amal yang sia-sia. Ini adalah salah satu bentuk rasa khauf (takut) dan tawakkalnya kepada Allah SWT.
Pantas menjadi bahan renungan, apakah kita termasuk golongan yang sedih karena berpisah dengan ramadhan atau golongan yang gembira dengan kepergiannya? Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan Inayah, hidayah dan taufiq-Nya. Aamiin.**
Wallahu a’lam bish shawab
Ustadz Triyoga AK, S.Ag., adalah pimpinan Majlis Taklim Hubban Lil Iman, Cilangkap, Kota Depok, Jawa Barat. Majlis ini mengusung jargon: Mengisi Hati dengan Dzikir dan Thalabul Ilmi dan misi: Amar ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan menghindari kemungkaran). Aktivitas:
- Pengajian rutin setiap Rabu malam Kamis (dzikir sadzili dan kajian ilmu agama)
- Pemberian santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa
- Menggelar tabligh akbar di setiap momen hari besar Islam
- Pembiayaan pendidikan kepada anak kurang mampu dan anak yatim ke sekolah berbasis Islam seperti pesantren
- Rencana ke depan, memberangkatkan para guru ngaji dan marbot masjid ke tanah suci (haji dan umroh)
Informasi: (WA) 081219201911
Channel YouTube: Hubban TV