Penulis: Ustadz Triyoga AK,S.Ag
Dalam salah satu wasiatnya, Rasulullah saw menyebut bahwa salah satu tanda keimanan adalah bughdul maali/membenci harta (dalam kitab Washiyatul Musthofa). Jadi, kecintaan kepada harta dunia itu adalah bagian dari takaran kadar keimanan seseorang. Semakin condong kepada harta maka semakin rendahlah kadar imannya. Semakin zuhud terhadap harta dunia maka semakin naiklah maqom keimanannya.
Karena itu jelas bahwa makna dari kalimat “membenci harta” itu adalah zuhud terhadap harta itu. Implikasinya adalah tidak memberi ruang bagi harta untuk bergerak bebas di dalam qalbu. Dia hanya sebatas berada dalam genggaman tangan. Maka orang zuhud itu benci jika harta akan membuatnya sombong dan lalai dari ingat kepada Allah SWT.
Mereka senantiasa ingat lima hal yang diprediksi Rasulullah saw dalam sabdanya: “Saya’ti ‘ala ummatii zamaanun, yuhibbuuna khamsan wayansauna khamsan (Akan tiba pada umatku suatu zaman, mereka cinta kepada yang lima, namun lupa kepada yang lima),”
Pertama: mereka cinta kepada dunia dan lupa kepada akherat. Kedua: mereka cinta kepada harta dan lupa kepada hisab. Ketiga: mereka cinta kepada makhluq dan lupa kepada Sang Pencipta. Keempat: mereka cinta maksiat dan lupa untuk bertobat. Kelima: mereka cinta kepada bangunan megah dan lupa kepada bangunan alam kubur.

Karena takutnya kepada lima kelalaian tersebut, maka orang beriman yang kaffah cenderung zuhud terhadap dunia. Mereka menyadari bahwa jika seandainya harta dunia sebanding dengan sayap seekor nyamuk, tentu Allah tidak akan memberikannya kepada orang kafir, walau cuma seteguk air. Karena itu, bagi mereka, dunia sangat hina, dan tidak sepantasnya dijadikan orientasi kenikmatan dan kebahagiaannya. Juga tidak layak ditempatkan sebagai obyek dan asbab dari setiap kegalauannya.
Karena itu orang beriman memilih dunia berstatus sebagai penjara ketimbang sebagai surga. Ini seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah saw: “Addun-ya sijnul mu’min wa jannatul kafir (dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir).
Penjara jelas mengindikasikan hidup penuh dengan disiplin keras. Gerak langkah para penghuninya (narapidana) dibatasi oleh aturan-aturan hukum yang membuatnya tidak bebas. Bahkan persoalan makan dan minum saja —kendati jelas-jelas halal— diatur sedemikian rupa. Ada warning: Awas, mengumbar nafsu makan adalah pekerjaan setan yang bisa membuat seseorang bodoh, gampang ngantuk dan malas beribadah.
Seandainya Allah menampakkan para “sipir penjara” (malaikat), tentulah orang beriman tidak akan berani mendatangi tempat-tempat maksiat. Tentulah mereka akan takut ketika hendak menumpuk harta tanpa mengeluarkan zakat dan infaq. Tentu mereka juga akan bergegas menuju masjid ketika terdengar adzan sebagai tanda masuk waktu shalat.
Sudah pasti pula orang-orang beriman akan berbondong-bondong mendatangi majlis-majlis ilmu dan dzikir. Sebab, di tempat-tempat seperti itulah para sipir penjara (malaikat) tidak kelihatan garangnya, tetapi malah tampak lemah lembut. Mereka membentangkan sayapnya untuk meneduhkan hati para jamaah majlis seraya berdo’a: “Ya Allah; ampunilah hamba-hamba-Mu yang duduk di majlis ini, ijabahlah semua hajatnya, masukkan kelak di surga dan jauhkan dari api neraka.”
Menariknya, penjara bagi mukmin ini ternyata tidak sebatas hanya mentaati aturan hukum yang ketat bagi para penghuninya. Mereka acap kali masih harus menerima ujian-ujian yang berat. Terkadang menderita sakit, diterpa kesulitan, menghadapi problem hidup yang rumit, menjadi obyek yang terdzalimi dan terhinakan, dan kadang harus berjihad di setiap kondisi baik dengan jiwa, raga dan hartanya.
Betapa lelahnya orang beriman. Selama hidupnya diawasi, diatur, diperintah, dilarang bersenang-senang melampaui batas, dibolak-balikkan hatinya, diuji sesuatu yang menggetirkan, diterpa badai masalah yang acap membuatnya berlinang air mata dan dihempaskan ke lautan problema hingga bercucuran keringat dinginnya.
Namun orang beriman yang memilih dunia sebagai penjara tersebut tetaplah bersabar atas semua ujian itu. Mereka tercerahkan oleh sabda Rasulullah saw: “Kelelahan dan sakitnya orang beriman merupakan kifarat/penggugur bagi dosa-dosanya.” (dalam kitab Mukhtarul Ahaadits).
Dengan kifarat atau penghapusan dosa itu sebenarnya Allah hendak mensucikan orang beriman dari segala dosa lahir dan batin. Kesucian itu adalah prasyarat utama bagi mukmin ketika hendak memasuki dimensi alam ukhrowi melalui gerbang kematian. Hanya hati yang suci yang layak menempati tempat yang suci pula, yaitu surganya Allah SWT, yang luasnya seluas langit dan bumi. Maka ketika seorang hamba beriman berada pada di gerbang ajalnya, Allah akan memanggilnya dengan lembut, sebagaimana dalam firman-nya:
“Ya ayyatuhan nafsul Muthmainnah, irji’ii ilaa robbiki raadhiyatam mardhiyyah. Fadkhulii fii ibaadi, wadkhulii jannatin. (Wahai jiwa-jiwa yang lapang/suci/lurus, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridla dan suka cita. Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku (para ahli ibadah) dan masuklah ke dalam surga-Ku).
Jelaslah sekarang bahwa pada hakekatnya dunia ini sangat hina bagi orang mukmin. Karena itu tidak layak jika menjadikannya sebagai tujuan hidup. Dia adalah ladang untuk mencapai kebahagiaan akherat (Addun-ya majraatul akherat).
Namun lain cerita jika seseorang memilih dunia sebagai surga, dan bukan penjara. Berarti dia telah memilih berpredikat kafir. Baginya, justru Allah akan sempurnakan kenikmatan dunia kepadanya tanpa batas, tanpa aturan dan tanpa hukum halal-haram. Bebas baginya berkeliaran di mana pun, bebas bersenang-senang, bebas bersenda gurau dan bebas bercanda tawas sepuasnya. Bahkan baginya juga bebas berlaku sombong atas kedudukan, kealiman dan kekayaannya.
Al-Qur’an mengindikasikan bahwa barang siapa menghendaki dunia, maka Allah akan segerakan kenikmatan dunia itu baginya. Namun mereka tidak akan mendapatkannya di akherat. Allah juga menampakkan dunia itu sangat indah dan molek di mata orang kafir yang telah memilih dunia sebagai surga. Maka mereka telah tertipu dan lalu berlomba-lomba untuk meraihnya. Mereka sibuk bersaing untuk mendapatkan harta dan kedudukan, berbangga diri atas eksistensinya, melakukan intrik-intrik hipokrit demi keuntungannya, dan lain-lainnya.
Satu pertanyaan mendasar: jika harta dunia adalah hina dan harus dibenci maka mengapa ada anjuran agar kita harus giat bekerja dan rajin berkarya? Pertanyaan ini sempat viral di kalangan cendekiawan muslim yang mengkritisi gaya hidup para sufi tempo dulu yang dianggapnya terlalu condong kepada kehidupan batiniyah (akherat) dan melupakan kehidupan lahiriyah (dunia).
Para cendekiawan itu berasumsi bahwa faktor itulah yang menjadi penyebab kemunduran Islam dibanding umat-umat lainnya di kancah dinamika kehidupan dunia, terutama pada aspek ekonomi. Seorang ulama besar Indonesia, Hamka, dalam kitabnya yang best seller, Tasawuf Modern, mengkritik doktrin tasawuf yang anti dunia itu sebagai ajaran yang melemahkan Islam.
Apa yang dikemukakan Hamka dalam bukunya itu adalah bagian dari polemik klasik yang pernah terjadi dalam sejarah Islam, yaitu antara paham tarekat yang cenderung menekankan penghayatan agamanya pada olah batin (esoteris) dan paham syariat yang menekankan penghayatan agamanya pada lahiriyah (eksoteris).
Untuk menjawab pertanyaan mendasar tadi, maka seperti penjelasan di awal, harus dipahami bahwa makna “membenci harta” itu adalah benci karena takut kalau harta itu akan membuatnya sibuk menjaga dan mengatur hingga akhirnya tergelincir dan lalai dari ingat kepada Allah. Kekhawatiran itu tentu tidak menafikan fakta bahwa harta tetaplah merupakan salah satu karunia Allah yang harus disyukuri. Simak firman Allah berikut ini:
“Allah memberi kepada kamu beberapa harta dan anak-anak, dan mengadakan untuk kamu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untuk kamu sungai-sungai.” (QS Nuh 12).
Rasulullah juga mengisyaratkan dalam sebuah hadits: “Kefakiran/kemiskinan itu hampir menjadikan kekufuran.” Maksudnya adalah ketika seseorang terus menerus dilanda kefakiran dan tidak ada kesabaran padanya, maka sangat mungkin dia akan berputus asa dari memohon kepada Allah SWT. Nah dalam kondisi ini, orang sangat rentan terjerumus kepada kekufuran.
Karena itu bagaimanapun harta tetap memiliki sisi manfaat untuk urusan keduniaan, yaitu mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Namun kemanfaatan dunia itu hanya bersifat sementara waktu. Nah agar harta memilki kemanfaatan hingga di akherat, maka menyitir pendapat Imam Al-Gazali dalam kitab ihya Ulumuddin, harta harus memberi manfaat diniah (manfaat keagamaan).
Lalu Imam Gazali merinci nilai kemanfaatan diniah itu menjadi tiga: Pertama, harta yang dinafkahkan untuk dirinya sendiri, yaitu untuk keperluan ibadah dan menolong orang lain dalam urusan ibadah. Kedua, harta yang dinafkahkan kepada orang lain. Dimensinya adalah sedekah dan muru’ah. Ketiga, harta yang dinafkahkan untuk kemaslahatan umum, seperti membangun masjid, tempat pendidikan agama, jembatan, rumah sakit dan masih banyak lagi.
Ketiga hal itu adalah kemanfaatan harta yang semestinya menjadi skala prioritas untuk memperoleh pahala yang besar dan kemuliaan di akherat. Maka sangatlah rugi orang tidak melakukannya ketika Allah memberi kesempatan dan kelapangan dalam urusan harta dunia. Sebab selain ketiga hal itu, harta hanya bermanfaat secara duniawi, seperti terlepas dari kehinaan meminta-minta, kehinaan fakir, dan mencapai kemuliaan serta ketinggian derajat di tengah-tengah manusia yang lain.
Wallahu a’lam bish showab
Ustadz Triyoga AK, S.Ag., adalah pimpinan Majlis Taklim Hubban Lil Iman, Cilangkap, Kota Depok, Jawa Barat. Majlis ini mengusung jargon: Mengisi Hati dengan Dzikir dan Thalabul Ilmi dan misi: Amar ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan menghindari kemungkaran). Aktivitas:
- Pengajian rutin setiap Rabu malam Kamis (dzikir sadzili dan kajian ilmu agama)
- Pemberian santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa
- Menggelar tabligh akbar di setiap momen hari besar Islam
- Pembiayaan pendidikan kepada anak kurang mampu dan anak yatim ke sekolah berbasis Islam seperti pesantren
- Rencana ke depan, memberangkatkan para guru ngaji dan marbot masjid ke tanah suci (haji dan umroh)
Informasi: (WA) 081219201911
Channel YouTube: Hubban TV
