“Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” (Wahyu 7:14)
Banyak cara untuk membasuh pakaian dengan menggunakan alat yang disebut sabun atau diterjen, baik secara manual maupun menggunakan mesin cuci.
Tetapi ayat ini mangatakan bahwa “membasuh jubah di dalam darah Anak Domba.” Sudah tentu bukan jubah atau pakaian seperti yang kita gunakan sehari-hari.
Ini berbicara soal Rohani, karena pakaian atau jubah yang dimaksud di sini adalah “jubah kebenaran Kristus, atau tegasnya ialah karakter Kristus.”
Pertanyaannya ialah bagaimana cara membasuh jubah, atau memurnikan tabiat?
“Untuk menguduskannya, sesudah Dia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.” (Efesus 5:26).
“Supaya jemaat cemerlang tanpa cacat dan kerut, supaya kudus dan dan tidak bercela di hadapan Dia” (ayat 27). “hidup di dalam terang sama seperti Dia yang hidup dalam terang, dan bersekutu dengan Kristus” (1 Yohanes 1:7).
Alasan membasuh jubah mereka diberikan. Orang-orang saleh menang, bukan karena perjuangan mereka sendiri, tetapi karena kemenangan Kristus Kristus di bukit Kalvari…
Ada kaitan yang erat antara kebenaran dan kemenangan, keduanya dilambangkan dengan jubah putih.
Peperangan adalah melawan dosa, dan kebenaran adalah kemenangan, kebenaran Kristus telah memengkan kemenangan itu karena penerimaan akan kebenaran-Nya, orang-orang berdosa dibenarkan dan dimenangkan.(SDA Bible Commentary, jld. 7, hlm. 785)
Blueprint yang harus diikuti umat Allah ialah tabiat Kristus. Sementara bersukacita atas diangkatnya menjadi anak-anak Allah dan persekutuan dengan Yesus Kristus, kita seharusnya menjadi semakin dewasa dalam kerohanian.
Kita perlu sadar bahwa kita butuh mengenakan jubah yang sudah dibasuh dengan darah-Nya.
Pendamaian Kristus merupakan pusat pengalaman dan motivasi kita untuk terus maju dengan pertolongan Roh Kudus yang bertitik tolak dari iman kepada iman, dari kekuatan kepada kekuatan, dari kebenaran kepada kebenaran, dari kesucian kepada kesucian dan akhirnya dari kemuliaan kepada dkemuliaan.
Ellen G. White dalam bukunya yang berjudul “Selected Messages” buku roh nubuat kedua halaman 378, mengungkapkan : “Hendaklah umat Allah melakukan upaya pemurnian di hadapan Allah dengan sungguh-sungguh bertobat, merendahkan hati, memeriksa hati secara mendalam, karena kita sedang hidup pada kegenapan hari pendamaian—saat paling hikmat dengan hasil yang kekal.”
Kita juga harus mengingat bahwa proses pemurnian itu berlangsung sampai ketika Allah mengumpulkan lalang dan membakarnya, dan mengumpulkan gandum serta memasukannya ke dalam lumbung (Matius 13:30).
Umat Allah akan dikumpulkan dan dibawa ke surga. Marilah kita merenungkan hasil akhir dari proses pemurnian oleh Allah untuk umat-Nya.
Yeremia 50:20 (TB) “Pada waktu itu dan pada masa itu, demikianlah firman TUHAN, orang akan mencari kesalahan Israel, tetapi tidak didapatnya, dan dosa Yehuda, tetapi tidak ada ditemukannya, sebab Aku akan mengampuni orang-orang yang Kubiarkan tinggal hidup.”
Tuhan memberkati.
Biodata: Pulo Lasman Simanjuntak, adalah seorang rohaniawan dari jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara Jakarta Timur. Dalam jabatan pelayanan pernah menjadi anggota majelis gereja, penatua jemaat, dan saat ini sebagai diakon serta guru sekolah sabat (SS) atau guru Injil/Alkitab. Sehari-harinya juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan.Bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
