
“Ambillah pekerjaan Tuhan ketika sebagian besar orang tidak mau mengambilnya, yaitu; melayani…”
Mariana (51) bukanlah biduan, tapi dia selalu bersenandung. Wanita kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, ini ke mana-mana handphonenya selalu melantunkan lagu-lagu pop Minangkabau. Sambil berjalan Mariana ikut bersenandung mengikuti lagu yang diputarnya.
Sehari-hari ibu dua orang anak ini berangkat dari rumahnya di Kranggan, Bekasi, ke tempat kerjanya sebagai buruh setrika di tiga rumah tangga. Per bulan janda berwajah oval ini diupah Rp300.000 per rumah.
Jumat pagi itu, 14 Februari 2025, seperti biasa Mariana berangkat dari rumahnya. Mariana tidak langsung ke tempatnya kerja, tapi belok dulu ke Jl. Melati Raya BS 39, Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi.
Rumah no 32 yang tingkat dua itu di pagarnya terbentang dua spanduk. Di salah satu spanduk tertulis: “Tersedia Gratis untuk Musafir, Pemulung dan Orang Lapar.” Sementara di bangku terdapat kardus-kardus mie instan dan kopi sachet.

Beberapa wanita ngerumpi sejenak di situ, sebagian membawa karung plastik dan gerobak sampah. Ada Ena (45), Ema (70) dan Titin (50) di situ.
Ema sudah hampir puluhan tahun menjadi pemulung. Dulunya dia anak orang berada di Kranggan, Bekasi. Tanahnya luas. Namun sedikit demi sedikit tanahnya dijual. Hingga akhirnya dia tidak punya apa-apa. Hidupnya serasa terbalik, terlebih setelah suaminya meninggal. Titin (50), anaknya nomor enam, seperti ibunya juga menjadi pemulung. Belakangan Titin sering sakit-sakitan.
Sementara Ena juga sudah lama menjadi pemulung. Suaminya, Armen, juga pemulung. Ena menjadi pemulung di sekitaran Kranggan. Setiap hari, dengan karung plastik digantungkan di bahunya, Ena memulung mulai pk 05 sampai pk 08.00. “Tidak jauh-jauh, sudah tua, sekitar sini-sini saja,” kata Ena. Pendapatannya tidak menentu, karena kerapkali di area yang sama juga ada pemulung lain.
Eddie Karsito, dengan topi rimba, kaos oblong dan celana pendek selutut sibuk membagi-bagi mie instan ke wanita-wanita tersebut. Bukan itu saja, Eddie juga bersenda gurau akrab dengan wanita-wanita tersebut. Kadang Eddie merangkul mereka dengan hangat.
Melihat kedatangan Mariana Eddie menyapa terlebih dahulu. Suaranya lantang. Keduanya sangat bersahabat. Lalu canda hangat melesat dari bibir Eddie, sang tuan rumah. “Ini dia penyanyi kita,” kata Eddie memperkenalkan Mariana. Mariana tersipu malu.
Mariana, begitu juga Ema, Titin, Ena dan yang lainnya, yang semuanya berkerudung, sudah tidak asing dengan Eddie Karsito. Mereka tidak hanya pada hari Jumat ke rumah Eddie untuk menerima mie instan dan kopi, namun pabila ada hal yang darurat mereka akan mencari Eddie.
Memanusiakan Manusia
Bagi Anda penikmat film layar lebar dan serial sinetron produksi Indonesia, mungkin sudah tidak asing dengan sosok Eddie Karsito.
Bintang film yang memulai karir dari panggung teater dan wartawan ini adalah pendiri dan Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan. Rumah no 32, milik Eddie, sekaligus juga kantor Yayasan Humaniora. Rumah ini sejak awal sudah didedikasikan Eddie untuk pelayanan kaum papah.
“Bapak Eddie sudah seperti kakak saya sendiri,” kata Mariana sambil menunjuk manja ke Eddie Karsito. Pernyataan Mariana ini diamini Ena dan Ema.

Kian jam merambat, para pemulung itu melanjutkan pekerjaannya. Termasuk Mariana. Namun satu per satu yang lain datang. Seperti sudah tahu jatahnya, mereka mengambil mie instan dan kopi. Tapi yang datang belakangan tidak kebagian karena yang sisa tinggal kardus-kardus kosong, namun Eddie menggantinya dengan uang.
Bukan hanya mereka yang mengenal Eddie Karsito dan Yayasan Humaniora, namun juga sebagian besar pemulung di Jatisampurno, Kota Bekasi, khususnya di sepanjang Jl, Transyogi. Termasuk penghuni kolong jembatan di Kali Sunter yang membelah Jl. Transyogi.
Pasalnya, Eddie dan yayasannya, bukan hanya membagikan mie instan dan kopi di depan rumahnya, namun juga aktif menolong segala kebutuhan para pemulung.
Ketika Desi (20) melahirkan dan tidak punya duit, Eddie pontang-panting mencarikan biaya bersalin. Demikian pula ketika Buyung (65), penghuni kolong jembatan Sunter, meninggal dunia karena sakit, Eddie yang mengusahakan mencarikan kuburan dan ambulans, juga membiayai selamatan pada malam harinya.

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan dan kegiatan budaya. Selain itu menyelenggarakan kegiatan pendidikan formal dan non-formal secara gratis, serta menyalurkan bantuan sosial dan santunan.
Yayasan ini didirikan oleh seniman, budayawan, wartawan, pendidik, dan pemerhati sosial, pada 17 Februari 1995 atau 17 Ramadhan 1415 H, berdasarkan dokumen pendirian; Akta Notaris R. Sabar Partakoesoema, SH Nomor : 19 Tahun 1995.
Selanjutnya diperbarui legalitasnya berdasarkan Akta Notaris Fanina Berlianty, S.H. M.KN., Nomor : 02 Tertanggal 25 Juni Tahun 2021, serta Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dengan Nomor : AHU-0015487.AH.01.04. Tahun 2021.
Yayasan Humaniora menyelenggarakan berbagai kajian sosial, seni, dan budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, seni pertunjukan, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama,” Yayasan Humaniora secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Barang-barang tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Uang hasil penjualan disalurkan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.
Saat ini Yayasan Humaniora membina 229 pemulung. Sebagian di antaranya adalah janda lanjut usia, ada yang usianya 97 tahun. Menyantuni kaum dhua’fa, fakir miskin, dan 40 anak yatim dan dhua’fa non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, yaitu di Bekasi (Jakarta) dan di Baleendah, Kabupaten Bandung.
Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini antara lain Ageng Kiwi, Iwan Burnani, Iwan Gardiawan, Yati Surachman, Raffi Ahmad, Ayu Azhari, Deddy Corbuzier, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Ratna Listy, Iwan Fals, Krisdayanti, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Lia Emilia, Ratu Bidadari, Krisna Mukti, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), dan Mella Yong (almarhumah).
“Di saat teman-teman saya masih sibuk menggunakan media ekspresi dia di film dan panggung, maka teater saya teater kehidupan. Ini saya berteater. Murni. Cerita film, cerita teater mengangkat fenomena hidup, kenyataan, jadi ini the real acting. Jadi ada satu teori acting is acting and dance is not acting. Ketika Anda merindukan saya tampil di panggung itu adalah masa lalu saya,” kata Eddie menjelaskan latar belakangnya di kegiatan sosial dan Yayasan Humaniora.
Bagi Eddie, kalau teater adalah ekspresi di panggung, dia sudah jauh melangkah, yaitu dekat dengan realitas kehidupan. Seniman harus dekat dengan realitas sosial. Dia mengutip kredo tokoh perfilman Indonesia, Usmar Ismail, “Seniman harus mampu menjadi personifikasi hati nurani masyarakat yang rindu keadilan dan kebenaran, serta membenci setiap kezaliman.”
Bagi Eddie menolong orang miskin dan yatim piatu sudah menjadi kewajiban orang yang mampu. Eddie kerap mengutip ayat 177 surat Al Baqarah, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya…”
Demikian juga surat Al-Maun, ”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin…”
Tentang nama Humaniora, Eddie menyebut buku Humaniora, Memanusiakan Manusia Muda, karya Dick Hartoko. Buku ini menjadi buku pegangan mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakarya Jakarta. Eddie Karsito pernah hanya satu semester menjadi mahasiswa STF Driyakarya—meski dia Muslim. Selain dari buku Dick Hartoko, kata humaniora juga terstimulan Romo Magnis Suseno, Guru Besar dan kini menjadi Direktur Driyakarya.
“Banyak spirit yang timbul yang tergabung dalam diri, disiplin ilmu, seni, masalah sosial, politik, keagamaan menyatu dalam diri. Maka muncul nama Humaniora. Humaniora, Memanusiakan Manusia Muda, karya Dick Hartoko, jadi buku pegangan di STF, meresap sekali, nama itu saya saya lekatkan dalam lembaga, yaitu Yayasan Humaniora,” kata alumni Pendidikan Guru Agama Islam di Kisaran Asahan, Sumatera Utara, ini.
“Dulu kata ini (Humaniora) masih asing, orang tidak akrab. Jadi humaniora itu memanusiakan manusia,” kata Eddie.

Mulanya Eddie mendirikan TK bersama istrinya, Lenny Susanti atau Tan Len Nio (alm). Istrinya adalah guru TK meski lulusan Akademi Sekretaris dan basic keseniannya tari. Lenny ingin mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Karena untuk mendirikan sekolah harus punya lembaga yang berbadan hukum, maka kemudian memakai Yayasan Humaniora.
Pada awal pendirian Eddie menggunakan dana pribadi, aset pribadi, kantor di rumahnya sendiri yang sejak muda memang sudah didedikasikan untuk kepentingan pelayanan. “Sumber dari uang pribadi,” ujar ayah Lee Sandie Tjin Kwang ini.
“Rata-rata yang kita urus non panti, ada dhuafa, anak yatim, mereka tinggal di rumah masing-masing. Kalaupun nanti Yayasan Humaniora mampu membangun panti juga tidak akan kita bangun, kita buat shelter, tempat penampungan sementara di mana setiap orang dikasih waktu agar tidak selamanya di situ,” ujarnya.
Eddie adalah altruistis, yaitu orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Dan bekerja tidak mengharapkan pamrih, tidak mengharapkan balasan, tidak mengharapkan pujian dan pengakuan.
“Saya lebih memandang manusia sebagai manusia, bahwa manusia sama seperti kita, butuh hidup, butuh makan, butuh eksistensi, pengakuan dan seterusnya. Manusia sebagai manusia, itulah yang kita jalankan,” ujarnya.
Ambillah pekerjaan Tuhan di mana sebagian orang tidak mau mengambilnya yaitu melayani.
Ituah kredo Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan. “Jadi yang namanya pelayan itu babu,” kata Eddie. Dan Eddie mengambil peran itu, sebagai pelayan, pelayan umat yang membutuhkan pertolongan, membutuhkan campur tangannya. “Tidak sektoral, prinsipnya menolong semua orang,” ujarnya.
Yayasan Multitalenta
Menariknya dari Yayasan Humaniora adalah antara kegiatan seni-budaya dan sosial-kemanusiaan bisa segendang sepenarian atau berjalan seiring. Bahkan menyatu. Umumnya yayasan hanya satu sektoral saja, misalnya yayasan santunan yatim piatu hanya itu saja kegiatannya, atau yayasan seni budaya hanya sebatas itu.
Kegiatan Yayasan Humaniora bisa berjalan bersama antara seni-budaya dan sosial-kemanusiaan. Multi kegiatan inilah yang membuat Suryandoro, pendiri dan pemilik Swargaloka Art Departemen (Yayasan Swargaloka), Bekasi, Jawa Barat, salut pada Yayasan Humaniora.
Bisa berjalan seiring seperti itu, kata lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) tahun 1986 ini, karena figur Eddie Karsito. Ia seorang seniman, wartawan, artis film/sinetron, penulis sekaligus peduli terhadap kaum dhuafa. Pergaulan Eddie sebagai jurnalis juga luas, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan atas.

“Yayasan Humaniora selain melakukan kegiatan kemanusiaan, yang peduli pada orang-orang yang membutuhkan bantuan, juga aktif melakukan kegiatan seni-budaya, mengibarkan kearifan lokal,” kata Suryandoro, pendiri Swargaloka Art Departemen tahun 1993 di Yogyakarta ini.
Menurut Suryandoro, banyak yayasan dengan kegiatan serupa yang hanya seumur jagung. Mereka muncul sesaat dan sekadar seremonial. Beda dengan Yayasan Humaniora yang bisa eksis sampai di usianya yang ke-30 tahun.
“Banyak lembaga yang kegiatannya tidak konsisten, hanya situasional, tidak telaten. Pada awal-awal saja tapi setelah itu tidak memperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Berbeda dengan Yayasan Humaniora. Karena itu yang dilakukan Yayasan Humaniora harus kita dukung bersama. Apa yang dilakukan Pak Eddie, apa yang dituju itu yang akan diperjuangkan oleh beliau. Karena itu harus kita dukung untuk mencapainya,” kata Suryandoro.
Suryandoro atau Swargaloka Art Departemen berkolaborasi dengan Yayasan Humaniora dalam kegiatan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka tahun 2010 di Gedung Pewayangan Teater Kautaman Jakarta. Kolaborasi ini bertujuan memperkenalkan wayang atau kesenian tradisional ke khalayak lebih luas, khususnya pemuda.
Karena bertaut visi yang sama, sejak itu Swargaloka kerap melakukan kolaborasi dengan Yayasan Humaniora. Terbaru kolaborasi Eddie Karsito dan Suryandoro adalah ide Hari Tari Indonesia (atau Hari Tari Nasional). Sejauh ini yang ada hanya Hari Tari Sedunia saban 29 April, sementara Hari Tari Indonesia belum ada. Ide ini diprakarsai Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI). Eddie didapuk menjadi humas.
“Hari Tari Indonesia sudah kami cetuaskan pada Juli 2024, sekarang tinggal pencanangan saja oleh pemerintah,” kata Suryandoro.
Sementara itu artis peran dan penyanyi Ageng Kiwi mengaku sudah lama bekerjasama dengan Yayasan Humaniora. Ageng sendiri mempunyai Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH). Humaniora dan KASIH sudah hampir 20 tahun melakukan kegiatan bersama untuk penggalangan dana dengan melibatkan artis.

Kegiatan tersebut di antaranya penggalangan dana korban bencana alam (antara lain Aceh, Yogyakarta, Sukabumi), tanah longsor, banjir dan lain sebagainya. “Saya dengan Pak Eddie, sama, satu circle, sama-sama punya niat ibadah untuk membantu orang lain yang susah,” kata artis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, ini.
Berbagai pergelaran untuk penggalangan dana dengan melibatkan artis di antaranya digelar di Bekasi dengan melibatkan seabrek artis dan musisi. Mereka yang tampil—umumnya artis penyanyi papan atas—ikhlas tanpa dibayar.
“Kami saling support untuk charity, free budget, penggalangan dana untuk anak-anak yatim dan bencana alam,” kata Ageng yang dalam kegiatan amal ini kebagian tugas mengkoordinir artis yang tampil.
Kegiatan dengan Humaniora tidak melulu panggung besar, namun kerapkali konser amal kecil-kecilan kelas trotoar. Juga melibatkan artis. Selain sumbangan dari pengguna jalan ada kalanya door to door ke kantor-kantor.
Selain untuk yatim piatu dan korban bencana alam, KASIH dan Yayasan Humaniora juga melakukan penggalangan dana bagi artis yang sedang kesusahan. Seperti kita tahu, banyak artis dahulunya bergemilang cuan tapi merana di masa senjanya, bahkan ketika sakit meratap tidak mempunyai biaya berobat.
Pada Oktober 2022 KASIH dan Yayasan Humaniora mengadakan konser pengumpulan dana untuk membantu seniman. Konser bertajuk “Malam Kasih Untukmu, Pray for Pekerja Seni” ini didukung seabrek artis dan disiarkan live streaming.
Dikatakan Ageng Kiwi, selama pandemi Covid 19 sebagian besar orang fokus pada keselamatan diri sendiri. Pun bagaimana caranya mempertahankan hidup. “Lewat konser ini kami saling bahu membahu membantu dan memberikan dukungan satu sama lain,” ujar artis yang kini sedang syuting film “Menjelang Magrib 2” produksi Helroad Film dengan sutradara Helfi Kardit ini.
Konser “Amal Malam Kasih Untukmu Pray for Pekerja Seni” berhasil mengumpulkan dana puluhan juta serta bantuan sembako ini di antaranya didukung Indra L. Brugman, Anisa Bahar, Della Puspita, Anies Fitria, Ratu Bidadari, Jelita KDI, Echal Gumilang, ustadz Imadduddin, Risky Ridho, Lia Emilia, Capt. Andi M. Pakpahan, Wibi Andrino, Gusti Rossaline Oca, Halilintar Saragih, Kevin Panjaitan, Mechalika, dan Del Sarono.
Ageng Kiwi secara pribadi angkat topi pada Yayasan Humaniora yang disebutnya multitalenta. Artinya, kegiatannya tidak melulu membantu masyarakat dhuafa, terutama pemulung, namun juga kegiatan seni-budaya, baik sebagai penyelenggara maupun melatih anak-anak berbakat di bidang seni. Humaniora juga memberi pelatihan vokasional gratis.
Ageng Kiwi menempatkan Eddie Karsito sebagai kakak, bahkan orang tua, yang hubungan kolaborasinya saling melengkapi. Ageng Kiwi juga salut karena Yayasan Humaniora tidak menadahkan tangan kepada siapa saja.
“Yayasan Humaniora terus melayani umat dan tidak pernah minta-minta pada pemerintah,” kata pembawa sub acara Mitos dan Budaya di program Silet RCTI ini. (budi santoso)